KORAN-FAKTA.ID – Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menghadiri kegiatan “Lawung Lingkung Tahun 2026” yang mengusung tema “Kerja Budaya Untuk Memuliakan Bumi” di Gedung Pendopo Kabupaten Garut, Jalan Kiansantang, Kecamatan Garut Kota, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Republik Indonesia, Mohammad Jumhur Hidayat, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Garut, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Persatuan Guru Besar Indonesia Provinsi Jawa Barat, perwakilan 18 perguruan tinggi di Jawa Barat, serta Ketua Forum Pelestarian Budaya Adat Tradisi Sunda/Pasundan dan para budayawan.
Kehadiran berbagai elemen masyarakat, akademisi, dan pemerintahan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi dalam memajukan daerah dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Mengawali arahannya, Bupati Garut menyampaikan ucapan wilujeng sumping (selamat datang) kepada Menteri LH RI di Kabupaten Garut. Ia memaparkan bahwa Garut saat ini menghadapi tantangan demografi dan penataan ruang yang cukup besar.
Dengan jumlah penduduk mencapai 2.948.000 jiwa, terbanyak kelima di Jawa Barat dan kedelapan di Indonesia, serta luas wilayah sekitar 3.100 kilometer persegi, tingginya laju pertumbuhan penduduk perlu disikapi secara bijak.
“Artinya orang sebanyak itu semakin lama semakin banyak, tetapi ruang-ruangnya itu tidak berubah. Padahal adanya manusia itu akan memerlukan ruang-ruang untuk kegiatannya, untuk membeli kebutuhannya, untuk berinteraksi, bersosialisasi, dan melaksanakan apa yang menjadi cita-citanya,” papar Bupati.

Bupati mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam memanfaatkan tata ruang agar tidak merusak lingkungan hidup. Terlebih, Kabupaten Garut memiliki kawasan hutan yang juga berfungsi sebagai wilayah penyangga bagi kabupaten/kota lain di bawahnya sehingga tidak boleh dialihfungsikan sembarangan.
“Sehingga bagi kita, itu bagaimana caranya kita bisa hidup dengan baik tanpa harus mengganggu lingkungan. Ini menjadi catatan kita semua,” tegasnya.
Menutup arahannya, Bupati mengucapkan terima kasih kepada pemerintah pusat melalui Kementerian LH/BPLH atas bantuan hibah berupa motor pengangkut sampah. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga lingkungan dan menaati peraturan terkait pelestarian lingkungan.
Sementara itu, Menteri LH/Kepala BPLH RI, Mohammad Jumhur Hidayat, menekankan bahwa menjaga kelestarian alam Nusantara membutuhkan tekad bersama untuk memuliakan bumi.
“Karena bumi hanya satu. Semua berkepentingan, bumi itu harus dijaga,” ujar Jumhur.

Ia menegaskan bahwa menjaga kelestarian lingkungan dan melestarikan kebudayaan merupakan hal yang tidak terpisahkan. Ia mengajak seluruh kekuatan lintas intelektual, etnis, dan usia untuk bersatu menjaga lingkungan tanpa ada niat merusak.
Dari perspektif budaya, Ketua Forum Pelestarian Budaya Adat Tatar Pasundan, Jajang Sanaga, mengungkapkan bahwa kearifan lokal dalam menjaga lingkungan masih dipegang teguh oleh masyarakat adat dari 49 kesepuhan di 15 kabupaten/kota.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat adat memiliki pilar nilai Tritangtu yang menjadi landasan harmoni dan keseimbangan dengan alam, yakni hirup eling (kesadaran manusia sejati), hirup cicing (kehidupan layaknya tumbuhan), dan hirup nyaring (kehidupan seperti hewan), dengan prinsip dasar menghormati “Ibu Bumi Bapak Langit”.
“Kepada masyarakat agar terus menjaga lingkungan serta menanam pohon sebagai bentuk investasi ekologis dan gerakan moral untuk merawat kehidupan, serta menitipkan bumi yang sehat bagi generasi masa depan,” tutur Jajang.
Kegiatan Lawung Lingkung Tahun 2026 berlangsung khidmat dan ditutup dengan penyerahan bantuan hibah motor pengangkut sampah dari Kementerian LH/BPLH serta pembagian bibit pohon kopi.(*)



















