KORAN-FAKTA.ID – Sampah sering dianggap selesai begitu keluar dari rumah. Padahal, justru di situlah masalahnya dimulai. Selama sampah masih dipandang sebagai sesuatu yang “tinggal dibuang”, persoalan lingkungan tidak akan pernah benar-benar selesai.
Kesadaran inilah yang melatarbelakangi kegiatan Edukasi dan Workshop Pengelolaan Sampah bersama Komunitas Garut Zero Waste dengan tema “Senangnya Bertanggung Jawab pada Sampah Sendiri”, yang diselenggarakan oleh Program Studi Teknik Sipil Institut Teknologi Garut di Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, pada 4 Februari 2026.

Sekitar 30 peserta hadir, mayoritas merupakan warga desa dan ibu rumah tangga—kelompok yang sehari-hari paling dekat dengan persoalan sampah rumah tangga. Di sinilah diskusi tentang sampah seharusnya dimulai: bukan di tempat pembuangan akhir, tetapi di dapur dan halaman rumah.
Workshop ini mengangkat hal yang tampak sederhana, namun sering diabaikan: membedakan sampah organik dan anorganik, memahami dampak sampah anorganik terhadap lingkungan dan kesehatan, serta membiasakan pemilahan sampah dari sumbernya. Diskusi berlangsung cair karena persoalan sampah adalah pengalaman sehari-hari para peserta.

Penguatan penting datang dari narasumber komunitas Garut Zero Waste, Rachminawati, S.H., M.A., Ph.D. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa sampah bukan semata persoalan teknis, melainkan persoalan cara pandang. Selama sampah dianggap “hilang” setelah dibuang, maka yang sebenarnya terjadi hanyalah memindahkan masalah ke tempat lain.Menurutnya, tanggung jawab terhadap sampah dimulai dari keputusan kecil di rumah: memilih, memilah, dan mengurangi. Konsep zero waste tidak menuntut kesempurnaan, tetapi konsistensi. Tidak harus langsung ideal, yang penting dimulai.
Perubahan paling terasa dari kegiatan ini bukan hanya pada pengetahuan, tetapi pada sikap. Hasil evaluasi menunjukkan meningkatnya pemahaman peserta tentang dampak sampah anorganik, disertai kemauan untuk mulai memilah sampah dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Dari ragu menjadi mau mencoba.

Di sinilah makna pengabdian kepada masyarakat menemukan relevansinya. Perguruan tinggi tidak hadir sebagai pihak yang menggurui, melainkan sebagai mitra belajar. Sementara masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai objek, tetapi subjek perubahan.
Pengelolaan sampah tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau kebijakan besar. Ia membutuhkan perubahan cara berpikir. Ketika rumah tangga mulai bertanggung jawab pada sampahnya sendiri, beban lingkungan akan berkurang secara nyata.

Sampah mungkin selalu pergi dari rumah kita.Namun apakah masalahnya ikut pergi, atau justru kita kirim ke tempat lain ? (**)



















