KORAN-FAKTA.ID — Pemerintah Kabupaten Garut memutuskan untuk memperpanjang masa tanggap darurat bencana hingga 22 Desember 2025. Keputusan ini diambil setelah munculnya bencana susulan di wilayah Garut Selatan.
Sekda Garut, H. Nurdin Yana, menyampaikan bahwa telah terjadi bencana susulan di wilayah Garut Selatan setelah penetapan status darurat sebelumnya. Salah satu wilayah yang terdampak adalah Kecamatan Bungbulang, di mana sedikitnya empat jembatan mengalami kerusakan, disertai sejumlah fasilitas lain serta beberapa rumah warga.
“Setelah kita tetapkan masa darurat, hari ini muncul lagi bencana susulan. Di Bungbulang ada sekitar empat jembatan yang rusak, belum termasuk fasilitas lain dan rumah warga. Karena itu, kemarin kita sepakat untuk memperpanjang masa tanggap darurat,” ujar Nurdin.
Ia menjelaskan bahwa fase kedua tanggap darurat yang akan berakhir pada 8 Desember 2025 akan langsung diperpanjang mulai 9 hingga 22 Desember 2025. “Insyaallah masa tanggap darurat akan kita perpanjang dari tanggal 9 sampai 22 Desember. Ini untuk mengakomodasi berbagai persoalan, termasuk kebutuhan masyarakat terdampak,” katanya.
Menurut Nurdin, anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) Kabupaten Garut masih tersedia sehingga masih dapat digunakan untuk membantu masyarakat yang kurang beruntung. Ia menambahkan bahwa jembatan-jembatan yang rusak akan diperbaiki sementara dengan memanfaatkan material lokal seperti kayu atau batang kelapa.
“Yang penting akses tidak terputus. Hari ini motor masih bisa lewat, tapi saya ingin akses itu juga bisa dilalui mobil,” tegasnya.
Nurdin mengungkapkan bahwa pada Senin besok Pemkab Garut akan kembali menggelar rapat bersama Muspida untuk menetapkan langkah teknis selanjutnya, termasuk rencana pembangunan rangka beton. Sementara itu, Dinas Sosial telah menurunkan tim ke lapangan untuk membuka dapur umum dan membantu warga yang rumahnya mengalami kerusakan.
“Senin nanti Bupati akan memimpin rapat Muspida. Kita juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap lingkungan,” ujarnya.
Ia menyoroti bahwa sejumlah daerah di luar Jawa seperti Sibolga, Bireuen, dan Padang mengalami bencana besar akibat kerusakan lingkungan. “Alhamdulillah Garut tidak mengalami banjir sebesar mereka, tetapi tetap ada warga kita yang terdampak. Total ada 97 warga Garut yang terdampak bencana di luar Jawa,” jelasnya.
Pemerintah, lanjut Nurdin, akan berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan di daerah tersebut untuk membantu memfasilitasi pemulangan warga Garut.
Kesiapan Menghadapi Nataru
Terkait persiapan menghadapi Natal dan Tahun Baru (Nataru), Nurdin menjelaskan bahwa seluruh unsur terkait telah melakukan rapat koordinasi, termasuk kepolisian, Dishub, BPBD, dan unsur kewilayahan. Semua diarahkan untuk bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing.
“Mobilitas transportasi sudah kita siapkan. Kewilayahan tidak boleh meninggalkan wilayah tanpa izin pimpinan agar pengawasan tetap berjalan. Wisata juga harus kita perhatikan karena Nataru biasanya terjadi lonjakan kunjungan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pembangunan kepariwisataan tetap menjadi salah satu konsentrasi Pemerintah Kabupaten Garut, sesuai arahan Wakil Bupati. “Pengembangan wisata menjadi orientasi pembangunan kita kedepannya selain tentu pembangunan infrastruktur lainnya,” pungkas Nurdin. (J Wan)





