KORAN-FAKTA.ID – Dinas Pendidikan Kabupaten Garut melalui Bidang Sekolah Menengah Pertama (SMP) menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kabupaten Garut di Universitas STKIP Garut, Kamis (27/8/2026).
Sebanyak 690 pelajar dari 428 sekolah negeri dan swasta mengikuti ajang tersebut. Jumlah peserta itu menjadi gambaran bahwa bahasa Sunda masih memiliki tempat di tengah kehidupan pelajar.
Para peserta tidak hanya diajak menggunakan bahasa Sunda dalam keseharian, tetapi juga menghidupkannya melalui berbagai bentuk sastra dan seni, mulai dari dongeng, pidato, sajak, pupuh, aksara daerah hingga cerita pendek.
Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Teguh Iman Pribadi, S.Kom., mengatakan FTBI merupakan ajang berjenjang yang dilaksanakan mulai dari tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional.
“Mulai dari tingkat kabupaten, tingkat provinsi sampai tingkat nasional, kegiatan FTBI (Festival Tunas Bahasa Ibu) ini ada tujuh mata lomba,” ujar Teguh.
Tujuh mata lomba tersebut meliputi Ngadongéng, Biantara, Maca Sajak, Nembang Pupuh atau Macapat, Maca jeung Nulis Aksara Daerah, Ngarang Carita Pondok (Carpon), serta Ngabodor Sorangan atau Borangan.
Keragaman cabang lomba tersebut menunjukkan bahwa bahasa Sunda tidak berhenti pada kemampuan berbicara. Bahasa menjadi pintu masuk menuju dunia sastra, seni pertunjukan, aksara, serta kreativitas generasi muda.
“Di tahun 2026 ini pesertanya sampai hampir 700, yaitu sekitar 690 peserta dari 428 sekolah negeri dan swasta,” kata Teguh.
Pelaksanaan lomba ditargetkan dapat diselesaikan dalam satu hari. Setelah melalui proses penilaian, peserta terbaik akan dipilih untuk mewakili Kabupaten Garut pada FTBI tingkat Provinsi Jawa Barat.
Untuk menjaga objektivitas penilaian, Dinas Pendidikan Kabupaten Garut melibatkan juri yang memiliki kompetensi di bidang bahasa dan seni Sunda. Selain berasal dari Dewan Kesenian Garut, sebagian juri juga didatangkan dari luar daerah, termasuk Bandung.
“Kami mendatangkan juri dari Dewan Kesenian Garut, kemudian ada juga dari bidang kesenian di Bandung. Kami mendatangkan dari luar Garut juga,” ungkap Teguh.
Menurutnya, kehadiran juri dari luar Garut menjadi bagian dari upaya menjaga independensi penilaian. Dengan demikian, peserta diharapkan benar-benar dinilai berdasarkan kemampuan dan penampilan mereka.
“Ini untuk menetralkan kepentingan-kepentingan yang lain, supaya hasilnya memuaskan dan yang menjadi juara benar-benar bisa mewakili Kabupaten Garut,” jelasnya.
Di balik semarak ratusan peserta, Kabupaten Garut membawa target besar. Garut sebelumnya telah dua kali berturut-turut meraih predikat juara umum FTBI tingkat Provinsi Jawa Barat. Bahkan pada 2025, ketika Garut menjadi tuan rumah, prestasi tersebut kembali dipertahankan.
Kini, Kabupaten Garut membidik prestasi ketiga secara berturut-turut atau hattrick juara umum tingkat Jawa Barat.
“Harapannya, pada 2026 tingkat provinsi kita bisa menjadi juara umum lagi. Hattrick,” tegas Teguh.
Target tersebut bukan sekadar ambisi mengejar piala. Di baliknya terdapat proses panjang berupa pembinaan di sekolah, pencarian bibit unggul, pendampingan peserta, serta pemberian ruang kepada anak-anak untuk mengembangkan kemampuan sekaligus mencintai bahasa daerahnya.
FTBI juga tidak hanya menjadi ajang untuk mencari juara. Peserta yang sebelumnya pernah mengikuti tingkat kabupaten masih diperbolehkan kembali berkompetisi selama belum menjadi juara pertama.
Sementara peserta yang pada tahun sebelumnya telah menjadi juara pertama tingkat kabupaten dan kemudian mewakili Garut ke tingkat provinsi tidak diperbolehkan mengikuti kembali kategori yang sama.
“Yang kemarin mengikuti tingkat kabupaten tetapi belum juara satu, bisa diikutsertakan kembali. Kecuali yang tahun kemarin menjadi juara satu di kabupaten dan mewakili Kabupaten Garut, itu tidak bisa diikutkan lagi,” terang Teguh.
Aturan tersebut sekaligus membuka ruang regenerasi. Peserta yang sebelumnya belum berhasil mendapat kesempatan untuk kembali belajar, berlatih, dan menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Karena itu, FTBI tidak hanya dipandang sebagai kompetisi, tetapi juga sebagai sarana pencarian bakat sekaligus mengukur keberhasilan pembinaan bahasa dan seni budaya Sunda di sekolah.
“Betul, ini juga pencarian bakat. Sekaligus merefleksikan bahwa pembinaan di sekolah itu harus terus-menerus,” katanya.
Pesan tersebut menjadi penting karena pelestarian bahasa daerah tidak mungkin selesai hanya melalui satu festival. Dibutuhkan pembinaan yang konsisten dan berkelanjutan dengan melibatkan sekolah, guru, keluarga, serta lingkungan masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, bahasa daerah menghadapi tantangan untuk tetap dekat dengan generasi muda. Karena itu, panggung FTBI menjadi lebih dari sekadar arena perlombaan.
Di sana, seorang anak belajar mendongeng menggunakan bahasa Sunda. Anak lainnya berani berdiri menyampaikan biantara. Ada pula yang menghidupkan pupuh, membaca sajak, menulis aksara Sunda, menciptakan carpon hingga menghibur melalui lawakan tunggal.
Setiap penampilan menjadi bagian dari upaya menjaga bahasa ibu agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Teguh pun berpesan kepada seluruh peserta agar mengikuti perlombaan dengan penuh semangat dan menjunjung tinggi sportivitas. Ia juga menegaskan bahwa keikutsertaan dalam FTBI tidak dipungut biaya.
“Kegiatan ini gratis, tidak ada biaya pendaftaran. Cukup sekolah mengantarkan anak didiknya sebagai pilihannya,” pungkasnya.(J Wan)



















